Apakah Pinjaman Karyawan Merupakan Kewajiban Perusahaan?

Ada sesuatu yang menggelitik Saya saat seorang karyawan datang pada Saya di suatu hari untuk mengajukan pinjaman uang. Benarkah semua kebutuhan karyawan menjadi tanggung jawab perusahaan? Dalam suatu organisasi Saya setuju bahwa perusahaan (sebagai suatu organisasi) bertanggung jawab untuk “memfasilitasi” seluruh kebutuhan sumber daya yang ada di dalamnya. Kata “memfasilitasi” haruslah kita definisikan dengan bijak dan tidak di telan mentah-mentah.

Kembali tentang pinjaman karyawan tadi, kebutuhan dia memang mendesak. Dia terlilit hutang kartu kredit yang digunakannya untuk kebutuhan konsumtif. Dengan berbagai alasan dia mengemukakan kenapa perusahaan harus membantu dia. Mulai dari kenyaman dia dalam bekerja, hingga kontribusi dia selama ini bagi perusahaan. Kebetulan di perusahaan Saya telah mengatur dengan rinci perihal pinjaman karyawan ini. Ada beberapa syarat yang diberikan perusahaan untuk proses pengajuannya. Yang pertama adalah masa kerja, dalam SK Direksi yang saya buat diisyaratkan masa kerja minimal 1 tahun. Kemudian syarat yang kedua dan yang utama adalah tujuan dari pinjaman tersebut. Saya mencoba mendriskripsikannya menjadi 3 hal utama yang menjadi syarat pengajuan.:
1. Diperuntukkan untuk perumahan
Bisa untuk DP KPR, Sewa, atau renovasi penting. Harapannya mampu memfasilitasi karyawan akan kebutuhan akan papan (tempat tinggal).
2. Diperuntukkan untuk kesehatan keluarga inti
Diharapkan mampu memfasilitasi karyawan akan kebutuhan kesehatan bagi keluarganya yang belum/ tidak difasilitasi dengan tunjangan kesehatan.
3. Diperuntukkan untuk pendidikan anak
Harapannya mampu memfasilitasi biaya pendidikan anak. Karena dirasa pendidikan merupakan hal penting dalammenumbuh kembangkan anak sebagai generasi penerus.

Diluar itu maka akan digugurkan pengajuannya. Nah… yang menjadi bingung Saya apakah benar jika kesalahan karyawan dalam mengelola keuangannya menjadi tanggung jawab perusahaan. Analoginya jika Saya menggunakan sumber keuangan Saya (tabungan, kredit, kartu kredit, dll) untuk kebutuhan Saya, entah itu untuk konsumtif atau kebutuhan primer, maka sebenarnya Saya telah memperhitungkan secara matematika tentang keuangan Saya. Kekayaan dikurangi pengeluaran logikanya harus diangka yang positif, jika tidak maka Saya tahu resiko yang harus Saya ambil.

Kembali lagi pada moment dimana di awal Saya ceritakan, apakah pinjaman karyawan merupakan kewajiban perusahaan? Saya rasa tidak. Kenapa, karena menurut Saya memberi pinjaman adalah hak perusahaan. Atau bahasa kasarnya “mau dikasih syukur, tidak juga bukan dosa”. Akhirnya yang Saya lakukan dari kacamata perusahaan adalah melihat performance karyawan tersebut dan seberapa penting untuk mempertahankan karyawan tersebut. Namun dalam kacamata seorang manusia maka yang saya lakukan adalah menolong sedapat mungkin sesuai dengan kemampuan Saya, entah bagaimana caranya. Pembelajaran ini perlu diketahui oleh dia agar jangan semua karyawan merasa sudah berkontribusi dan menanamkan dalam paradigmanya bahwa “Pinjaman Karyawan Merupakan Kewajiban Perusahaan”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: