“Cadangan”

Hari ini seseorang dari masa lalu terlihat online di situs jejaring sosial milik Saya. Saya tergoda untuk menyapanya dalam chating. Menarik saat Saya dan Dia mengobrol lewat chating tentang masa lalu. Kadang kala  refreshing dengan seseorang dari masa lalu mampu meredakan sedikit ketegangan di rutinitas kantor. Kami membicarakan tentang masa lalu, kebetulan di masa itu ada kesempatan bagi kami berbagi hati. Namun kami tidak pernah berpacaran. Saat Saya tanyakan alasannya mengapa kami, pada waktu itu, tidak dapat menjalin relasi, jawabannya agak menarik bagi Saya. “Kamu tidak fokus padaku”. “Aku tidak mau jadi cadangan”.

Tanpa sadar waktu itu Saya membentuk paradigma ke dia bahwa dia adalah cadangan.  Waktu itu memang benar Saya sempat maju mundur dalam mendekati dia karena saat itu status Saya adalah baru putus dengan temennya. Namun bukan dia penyebabnya, kebetulan saja saat itu mantan pacar Saya adalah teman dia.

Kata “cadangan” cukup menggelitik dan membuat Saya bertanya-tanya. Saya berusaha mencari arti kata “cadangan” dari mesin pencari Google. Cadangan atau ca.dang.an berarti  (1) anjuran; usul: ~ balasan; (2) persediaan; serep: uang ~; hutan ~; (3) ark rancangan; rencana: ~ lima tahun; (4) penyisihan dana yg berasal dr kelebihan atau dr laba yg tidak dibagi-bagikan dsb. Saya mencoba mengartikannya sebagai persediaan. Karena merupakan persediaan maka seringkali “cadangan” menjadi tidak nomor satu.

Saya teringat dengan mantan karyawan yang pernah bekerja di tempat saya bekerja. Saat itu dia sudah tidak memiliki “hati” untuk bekerja. Berubah menjadi pengeluh super kritis, menjadi penjilat tapi tidak sepenuh hati mengerjakan yang menjadi tugasnya. Masuk kerja hanyalah untuk formalitas dan terakhir mendapatkan Surat Peringatan II atas tindakan indisipliner. Yang saya amati, bekerja saat itu hanya dijadikan cadangan karena belum mendapat tempat lain untuk pindah saja. Sangat lucu saat seharusnya suatu yang utama dijadikan cadangan. Beberapa kali Saya menegur, memberi peringatan bahkan sempat untuk menghitung biaya termination untuk dia.  Untungnya ybs mengundurkan diri sebelum saya melakukan termination tersebut.

Tidak salah memang menjadikan suatu perusahaan menjadi “karier cadangan” untuk melompat ke perusahaan lain. Bagi saya itu merupakan naluri pertahaanan diri dalam menghadapi kehidupan. Tidak melanggar UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Kadangkala dalam bertahan hidup kita perlu mengesampingkan tentang etika. Namun kurang etis jika kita menjadikan sesuatu yang memberikan penghasilan utama bagi kita menjadi prioritas kedua. Sehingga apa yang harusnya kita lakukan dengan maksimal, kita hanya lakukan sekedarnya hanya untuk menaati peraturan atau norma yang mengharuskannya. Orientasi hanya pada kuantitas tidak pada kualitas apa yang kita kerjakan.

Masalah etis dan tidak etis adalah masalah etika. Bagi saya etika merupakan hasil dari attitude kita. Dalam segitiga kompetensi ada 3 hal yang menjadi dasar potensi kita, yaitu : Knowledge, Skill & Attitude. Dan yang menjadi dasar pondasi dai potensi tersebut adalah attitude. Orang berpengalaman dan memiliki ketrampilan namun tanpa perilaku dan kepribadian yang baik akan sekedar diingat pada waktu yang singkat. Namun saat kita menaikan semua potensi kita dengan seimbang maka orang lain akan menilai kita dengan lebih baik dan dengan waktu yang lama. Saat orang lain menilai dengan lebih baik maka kita tidak perlu menjadikan perusahaan menjadi karier cadangan karena pastinya kita yang menentukan karier kita,

Note :

Thanks to Riris yg pernah menjadi “cadangan” walupun sebenarnya tidak demikian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: