Dendam Positif

Rasanya sering kali kita terlibat dengan perasaan tidak enak, marah, benci bahkan trauma pada satu peristiwa atau kejadian yang tidak meng-enakan yang kita alami. Kecenderungan kita “lebih” mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan ketimbang kejadian yang menyenangkan. Sehingga pada akhirnya kita terjebak pada rasa dendam, baik pada orang yang menurut kita telah menyakiti kita, pada keadaan yang menyebabkannya, bahkan yang lebih konyol kadang kita menyalahkan Tuhan, yang mengijinkan ini semua terjadi.

Sudut pandang bahwa kita menjadi subyek dari sebuah kejadian yang tidak menyenangkan inilah yang seringkali membuat kita terjebak pada paradigma “saya adalah korban”. Ujung-ujungnya kita terjebak pada “dendam” yang seringkali membuat alam bawah sadar tidak bisa maju mengikuti kesadaran kita. Perlu diingat bahwa hampir 80 % perilaku kita dipengaruhi oleh ketidak sadaran, dan 20 % dipengaruhi oleh kesadaran. Bayangkan saja pribadi kita seperti apa kalau ketidaksadaran kita dikuasai oleh dendam.

Dendam, bisa menjadi negatif ataupun positif, walaupun seringnya kita mengidentikan dengan hal-hal yang negatif. Padahal kalau kita rubah sudut pandang kita menjadi subyek dari setiap kejadian maka mungkin kita lebih dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Suatu contoh, pada waktu SMP pernah saya mengalami first love (saya mendefinisikannya sebagai cinta pertama, bukan cinta monyet). Tanpa sebab yang jelas tiba-tiba wanita yang saya sukai berbalik meninggalkan saya sebelum sempat kami pacaran. Pada saat itu saya memilih menjadikan diri saya sebagai obyek, kebetulan situasinya mendukung. Peristiwa tersebut membuat saya menempatkan diri sebagai korban dari pikiran saya. “Dia meninggalkan saya karena saya miskin”. “Dasar cewek matre”. Apalagi saat itu kodisi ekonomi keluarga sedang terpuruk, saya harus mempersiapkan diri merelakan beberapa fasilitas yang ada menjadi tidak ada. Semua hal yang tidak menyenangkan saya kambing hitamkan akibat kata “miskin”. Proses berpikir yang salah ini membuat saya menjadi dendam kepada dia dan teman-teman yang kebetulan dekat dengannya. Saya menjadi rendah diri, menghindari orang-orang yang saya anggap “the have”, bahkan mulai memberi label miskin di otak saya.

Bahkan saat saya tahupun tentang alasan kenapa dia meninggalkan saya waktu itu, saya belum dapat merubah pandangan saya terhadap diri saya. Kondisi tersebut didukung dengan kejadian-kejadian tidak mengenakkan yang saya alami. Mulailah Tuhan yang dipersalahkan. Tuhan tidak adil, Tuhan jahat, sampai pada Tuhan adalah manifestasi dari ketakutan dan ketidak berdayaan manusia. Ketidak percayaan saya akan Tuhan menyebabkan perubahan pribadi yang berbeda. Beringasan, cuek, pemarah, dan pendendam. Sampai pada saat saya terhantam pada satu peristiwa dimana orang menyetujui pikiran saya. Ibu dari pacar saya di SMU menyuruh saya memutuskan anaknya dengan alasan saya tidak punya masa depan. Saya marah dengan pernyataan itu namun tidak berdaya saat itu…

Pada awalnya saya marah dengan keadaan, pada orang dan pada Tuhan. Bagi saya saat itu seluruh alam semesta bersekongkol melawan saya. Saat itu saya berjanji kalau semuanya melawan saya, saya hancurkan semuanya. Namun apa yang terjadi? Kemarahan-kemarahan itu membuat saya semakin mengerti tentang siapa yang salah. Peranan terbesar kesalahan adalah pikiran saya. Sedikit menyadur teori Gelstat dimana yang menentukan hidup kita adalah kita sendiri. Right here, right now, bukan masa lalu, bukan keadaan, bukan Tuhan, apalagi menyalahkan manusianya. Saya mulai belajar berdamai dengan keadaan, masa lalu dan mulai merencanakan apa yang akan datang.

Bayangkan jika saya melakukannya saat saya mulai men”dendam”, saya pikir sekarang ini saya akan lebih dari sekarang. Saya habiskan bertahun-tahun bahkan belasan tahun untuk memahami bahwa dendam negatif yang saya tanamkan pada diri saya menjadi sebuah dendam positif yang menjadikan saya lebih dewasa. Kecewakah saya?? tidak karena orang yang pertama-tama harusnya saya ucapkan terima kasih adalah ibu yang sempat menyatakan kebenaran pada saat itu, yang membuka mata saya tentang nilai saya. Dendamkah Saya??? Iya, namun dendam saya berubah menjadi suatu proses perubahan tentang diri saya.

Ingat….bahwa kita yang menentukan “hidup kita”. Kita yang berkuasa atas perasaan kita. Dan kitalah yang bisa memilih dendam itu menjadi negatif atau positif.

  1. ak suka dgn cerita ini,
    krn saya pun pernah mengalami yg namanya “dendam positif”
    malah saya selalu ingin mempunyai “dendam positif” saya ingin org-org “mengkritik”saya dan memberikan araha-arahan kpd saya agar saya dapat menjadi yg lbh baik lg dan mencapai yang terbaik dlm hidup ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: